Friday, August 5, 2016

Kehidupan Sosial Masyarakat desa Tolbuk

Dua orang nenek warga desa Tolbuk sedang duduk-duduk santai di beranda rumah
Kehidupan Sosial yang menjunjung adat istiadat masih sangat kental diterapkan di Desa Tolbuk sehingga mempengaruhi perubahan kondisi dan sistem politik di Desa Tolbuk. Sistem politik di Indonesia yang lebih demokratis, memberikan pengaruh kepada masyarakat untuk menerapkan suatu mekanisme politik yang dipandang lebih demokratis.

Dalam konteks politik lokal Desa Tolbuk, hal ini tergambar dalam pemilihan Pileg, Pilkada dan Pilgub yang juga melibatkan warga masyarakat Desa Tolbuk secara umum. Khusus dalam pemilihan Kepala Desa Tolbuk, sebagaimana tradisi kepala Desa di Jawa, biasanya peserta (kandidat) nya adalah mereka yang secara hubungan darah memiliki hubungan dengan Kepala Desa yang masih menjabat.

Hal ini tidak terlepas dari anggapan masyarakat banyak di desa-desa, bahwa jabatan Kepala Desa adalah jabatan garis tangan keluarga-keluarga tersebut. Hal ini terjadi di Desa Tolbuk, yaitu Bapak Samsul Arifin yang menjabat sebagai kepala desa selama 10 tahun.

Fenomena ini terjadi dikarenakan pada saat ada masa pemilihan kepala desa tidak ada yang mencalonkan diri, dan masih percaya dengan kepemerintahan lama. Kepala desa dianggap sosok yang kharismatik dan bisa mengayomi di Desa Tolbuk. Kekuasaan yang dipegang satu orang juga menyebabkan pemilihan perangkat-perangkat desa dan kestrukturan organisasi desa kurang tertata rapi, dalam hal ini dapat dibuktikan dengan adanya beberapa jabatan yang ada di desa yang dipegang satu orang.

Selain Kepala Desa tentunya sosok pemimpin di Desa Tolbuk pada khususnya dan Madura pada umunya adalah seorang Kyai atau Ulama. Karena seorang Kyai memiliki kharismatik yang sangat luar biasa. Di pandang memiliki ilmu yang lebih sehingga banyak masyarakat yang benar-benar manut kepada ulama. Bahkan Kyai atau ulama terkadang terlalu di lebihkan daripada orang tua sendiri.

Masyarakat desa Tolbuk masih bisa dikatakan agamis dan memegang teguh ajaran agama yang di wariskan oleh tetuanya tanpa terpengaruh budaya negatif dari luar seperi budaya barat, terlihat banyak sekali kegiatan keagamaan yang dilaksanaan setiap minggunya seperti serakalan (shalawatan), pengajian rutin, tahfidzul qur’an, dan yasinan. Tenggang rasa dan gotong royong masih dirasakan antar warga, berbeda dengan kehidupan dikota yang mementingkan kehidupan individu sendiri.

0 comments:

Post a Comment