Wisata Alternatif di Desa Tolbuk

Pemandangan pelangi diatas Masjid Nurul Iman desa Tolbuk
Tolbuk adalah sebuah desa yang terkenal akan keunggulan kualitas sapinya. Ternyata pesona Desa Tolbuk tak hanya sampai di situ, Tolbuk memiliki sejumlah potensi lain yang belum pernah tersentuh campur tangan pemerintah. Ada sebuah wilayah yang sangat potensial untuk dijadikan lokasi wisata. Sebuah wilayah yang dipenuhi dengan ekosistem tanaman bakau (mangrove).
Kelompok kkn 9 saat berkeliling meninjau hutan bakau di desa Tolbuk untuk melihat potensi dikembangkan sebagai tempat wisata
Lokasi ini seharusnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Tolbuk untuk dijadikan daerah pariwisata hutan mangrove seperti seperti yang ada di Jakarta, Bali, dan Surabaya. Di Surabaya, wisata hutan mangrove yang ada di daerah Wonorejo telah menjadi salah satu ikon wisata yang menarik untuk dikunjungi bersama keluarga, teman terdekat, bahkan untuk kegiatan pembelajaran lapangan bagi siswa sekolah.

Dari pinggir jalan raya wisatawan bisa melihat langsung proses pembuatan garam
Lokasi wisata tergolong cukup strategis, akses untuk menuju ke sanapun sangat mudah. Di lokasi wisata hutan mangrove Wonorejo juga telah dilengkapi dengan jalan kayu yang terbentang di seluruh penjuru area wisata. Terdapat pula beberapa papan yang berisi informasi seputar flora dan fauna yang ada di lokasi tempat wisata. Jika pengunjung lelah usai berekeliling, pihak pengelola juga menyediakan sentra kuliner khas dan oleh-oleh.

Jika ekosistem mangrove yang ada di Tolbuk dapat dikelola dengan baik seperti yang ada di Surabaya, tentu akan sangat membantu meningkatkan perekonomian warga sekitar. Selain membantu perekonomian lokal, juga diharapkan dapat membantu pertumbuhan ekonomi regional. Selain potensi ekosistem mangrove, Desa Tolbuk ternyata juga memiliki keunikan tersendiri.
Kerang berserakan di seluruh pinggir tambak yang dianggap sebagai hama
Di sekeliling tambak yang ada di sana, terdapat limbah kulit kerang yang beserakan di mana-mana. Entah darimana sebenarnya kulit-kulit kerang itu berasal. Hampir di seluruh permukaan jalan yang ada di tambak, dipenuhi dengan kulit kerang yang beragam bentuknya. Masyarakat seharusnya sadar bahwa limbah kulit kerang ini dapat diolah menjadi beragam barang kerajinan menarik. Seperti boneka dari kulit kerang, lampu hias, bingkai foto dan gantungan kunci.

Di Surabaya, tepatnya di daerah Kenjeran sudah terdapat daerah sektor industri kulit kerang. Di sekeliling jalan, banyak pedagang yang menjual beragam kerajinan yang terbuat dari kulit kerang. Apabila di Desa Tolbuk, dapat menerapkan hal yang sama. Tentu akan berdampak baik bagi perekonomian warga sekitar, dari kulit kerang dapat pula membuka lapangan pekerjaan bagi warga. Warga dapat membuka usaha kerajinan kulit kerang dan mempekerjakan warga sehingga bisa mengurangi jumlah pengangguran. Selain meningkatkan laju ekonomi, pengolahan limbah kulit kerang yang melimpah juga dapat membantu melestarikan lingkungan sekitar. Untuk mengoptimalkan potensi wisata juga bisa dengan menggabungkan kedua potensi tersebut.

Sunset di desa Tolbuk
Di sekitar lokasi wisata hutan mangrove nantinya dapat dimanfaatkan masyarakat yang mengolah limbah kulit kerang dengan mendirikan toko cinderamata di sana. Setelah pengunjung puas menikmati wisata mangrove, pengunjung dapat membeli oleh-oleh dari pemanfaatan limbah kerang. Warga sekitar yang juga mempunyai usaha, baik makanan atau yang lainnya juga bisa berpartisipasi dengan menjualnya di wisata mangrove. Hal ini tidak akan mematikan penghasilan warga yang lain, warga harus pandai dalam memanfaatkan peluang yang ada.

Jika warga Desa Tolbuk berhasil menerapkan hal ini, tak menutup kemungkinan akan menjadi bahan percontohan bagi Desa lain yang memiliki potensi yang sama maupun memiliki permasalahan yang sama. Jika setiap Desa di Madura memiliki kesadaran yang tinggi terhadap potensi-potensi yang ada di wilayahnya, maka Madura akan mampu menjadi daerah yang lebih maju lagi.

0 komentar:

Post a Comment