Ketersediaan bambu yang melimpah

Belajar dan Maju bersama Masyarakat

Kegiatan Masyarakat Sewaktu Mencari Pakan Ternak Sapi

Belajar dan Maju bersama Masyarakat

Sapi Tolbuk Sebagai komoditas Unggulan masyarakat

Belajar dan Maju bersama Masyarakat

Pemandangan Alam Desa Tolbuk

Belajar dan Maju bersama Masyarakat

Wednesday, August 10, 2016

VIDEO PROFIL DESA TOLBUK


BUKU DESA TOLBUK

Unduh secara gratis dengan klik di sini

Tuesday, August 9, 2016

DIMANA DESA TOLBUK?

LIHAT RUTE LENGKAPNYA KLIK DISINI 

CATATAN KKN KELOMPOK 9

ilustrasi (sumber:okezone.com)
Kebersamaan selama KKN

Entah harus dari mana aku memulainya karena bagiku ini sangat berkesan dan sangat menyenangkan. Kali ini aku akan memulainya...... Pada tahun 2016 ini tepatnya saya semester 6 (enam), saya mengambil mata kuliah KKN (Kuliah Kerja Nyata). Mata kuliah KKN ini dilakukan dengan adanya pembekalan sebanyak 2 kali dan turun langsung ke lapangan. Jadi, KKN ini dilakukan langsung turun ke lapangan dan tidak dilakukan seperti kuliah pada mata kuliah lainnya. KKN (Kuliah Kerja Nyata) ini membuat kita turun langsung ke desa selama 26 hari untuk mengabdi kepada masyarakat dan membantu masyarakat.

Alhamdulillah saya bersyukur.... saya tergabung dengan kelompok 9 yang kebetulan terdiri dari 6 laki-laki dan 14 perempuan. Kami ditempatkan di Desa Tolbuk, Kecamatan Klampis, Kabupaten Bangkalan. Awalnya .... saya merasa bahwa KKN saya tidak asyik, jahat, tidak saling menyayangi, dan pilih-pilih teman. Selain itu, saya juga merasa kalau desa Tolbuk itu kecil, kumuh, sempit, dan pelosok. Maklum saya selalu berhalangan untuk mengikuti survey...

Alhasil ...... setelah saya menginjakkan kaki di Desa Tolbuk, Kecamatan Klampis, Kabupaten Bangkalan yang telah berlangsung 3 hari, saya merakan sesuatu yang berbeda. Semua opini yang saya pikirkan tidak ada yang kenyataan. Teman-teman KKN kelompok 9 sangat asyik, enjoy, saling menyayangi, dan mengutamakan kebersamaan sehingga saya nyaman berada disini. Tempat KKN di DesaTolbuk ini juga bukanlah tempat yang seperti saya pikirkan, melainkan sangat bersih, luas, indah, dan nyaman bagi saya. Tempat KKN saya bukanlah di tempat yang sangat pelosok, tempat ini tidak begitu pelosok karena kami disini masih bisa mendapatkan air, sigma lancar, dan bisa membeli apa yang kita butuhkan. Kelompok kami sangat beragam seperti pelangi baik dari kota yang berbeda, sifat yang berbeda, perilaku yang berbeda, suku, dan jurusan yang berbeda.

Kelompok kami terdiri dari berbagai jurusan, yaitu Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Guru Pada Anak Usia Dini (PG PAUD), Sosiologi, Pendidikan IPA, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Ilmu Komunikasi, Agribisnis, Agroteknologi, Teknologi Industri Pertanian (TIP), Akuntansi, Manajemen, Syari’ah, dan Hukum Bisnis Syari’ah. Saat melakukan kegiatan kita saling bantu membantu dan bergotong royong dengan mengutamakan kebersamaan. Meski kelompok kami beragam dan banyak perbedaan, kelompok kami sangat mengutamakan kebersamaan dan keharmonisan seperti keluarga sendiri. Kami selalu makan bersama, makan satu makan semua, seru-seruan bareng, menyelesaikan program kerja bareng-bareng, canda tawa bareng, dan mengajar bareng-bareng. Saya sangat senang berada di desa tempat saya KKN dengan kelompok 9 ini. Disinilah aku menemukan kebahagiaan dan kebersamaan setelah sekian lama saya tidak tergabung dalam pramuka dan selain kebersamaan di kelas.

Hari-hari pun telah berganti. Tidak terasa sudah tinggal menghitung hari kami akan berpisah dan meninggalkan desa Tolbuk. Setelah pulang KKN nanti, pasti kebersamaan dan sikap kekeluargaan inilah yang akan kami rindukan. Saya yang awalnya kurang betah disini lama-lama betah juga dan ada rasa tidak ingin berpisah dengan teman-teman kelompok 9. Di tempat inilah saya menemukan kenyamanan, cinta, persahabatan, dan kegembiraan bersama teman-teman tercinta kelompok 9. Semoga setelah pulang KKN ini kami semua saling mengingat dan tidak melupakan kenangan-kenangan yang kami rangkai di tempat KKN tepatnya di Desa Tolbuk, Kecamatan Klampis, Kabupaten Bangkalan.

By: Izzatun Nihayah

Mengukir Kisah Di Penghujung Akhir KKN

Tanggal 14 Juli 2016 kita berangkat bersama ke tempat tujuan dalam keadaan baik dan kompak, semua santai dan baik-baik saja. Namun setelah satu minggu berjalan semuanya sudah mulai berbeda, entah apa yang terjadi akupun juga tidak mengerti. Hmmmmmmm,,, biarlah suka maupun duka harus tetap ku jalani selama KKN, selama 26 hari tinggal bersama 20 orang teman baru, benar-benar harus eksta SABAR. Sudah biasa sih tinggal rame-rame dengan teman-teman yang berbeda watak, tapi kali ini luar biasa EKSTRIM, mantaapppp..............

Jadi orang sabar memang sangat sulit sekali, dengan menghadapi karakter teman yang berbeda satu sama lain, tapi mau tidak mau harus tetap profesional donk....... Program Kerja tetap harus jalan, tidak peduli bagaimana orang-orang disekeliling berkata, yang jelas maju terus pantang mundur. Tidak ada kata menyerah untuk terus berjuang, jangan malu-maluin gelar MAHASISWA dengan kata nyerah dan gak profesional, hahaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhaaa

Selain melatih kesabaran, di KKN ini juga di uji untuk menghormati dan menghargai orang lain dan lingkungan sekitar. Otak boleh saja cerdas, tapi bagiku semua itu tidak berguna kalau tidak punya etika dan moral, jadi KKN sekalian belajar etika dan moral untuk menghormati dan menghargai orang lain. Ilmu bisa dipelajari, tapi etika dan moral harus dilatih dengan kebiasaan hidup sehari-hari.

Menghitung hari berakhirnya KKN kelompok 9 tepatnya di Desa Tolbuk Klampis menjadi semakin kompak, sehingga sering kali adanya kebersamaan yang membahagiakan untuk kami, anggota dari kami adalah saya sendiri, nur, nanik, salma, april, rifkah, mbak idfi, kiki, cho, dhea, iza, dewi, novi, maltufah, rusdi, pak kordes(iskak), sandy, hanafi, sa’odi, dan hengki. Selama di tempat KKN kami banyak belajar bagaimana arti persaudaraan dan menghargai satu sama lain, itu yang saya dapat. Selama 26 hari menjalani KKN susah senang kami rasakan bersama, dan tidak lupa kami menjalani kewajiban yaitu program kerja yang cukup berat kami lakukan agar ilmu yang kami dapat di Desa Tolbuk ini bermanfaat bagi masyarakat tepatnya di Desa Tolbuk Klampis. Lima hari sebelum berakhirnya KKN saya membuat akhir cerita KKN ini, disamping itu antara senang dan sedih yang saya rasakan karena akan berpisah sama teman-teman KKN yang sebelumnya kami lalui bersama-sama di tempat KKN, saya tidak akan bisa melupakanmu teman! 

Seiring berjalannya waktu hingga tiba akhirnya perpisahan yang saya nanti-nanti, 26 hari seperti terlalu cepat berlalu, terlalu singkat bagi saya, namun bagaimana lagi...kami harus menjalankan apa yang harus kami lakukan untuk masa depan yang akan datang, masa depan yang cerah, masa depan yang membahagiakan. Ungkapan kata yang ingin saya katakan “jangan berakhir, aku tak ingin berakhir, aku ingin sebentar lagi, satu hari saja ku ingin bersama-sama mengenang yang pernah ada dari awal perkenalan sampai akhir KKN ini, jangan berakhir karena esok takkan ada lagi satu hari hingga ku rasa bahagia untuk mengakhiri semuanya”. Jika memang ini sebuah kebersamaan kami yang terakhir, semoga kenangan-kenangan indah ini tak pernah terlupakan selamanya hingga kami kan bertemu kembali dengan senyuman kebahagiaan dan kesuksesan. Terimakasih teman saya tidak akan melupakan apa yang kalian lakukan pada saat KKN ini.

Sebuah cerita indah yang tidak akan pernah aku lupa karena ini terjadi hanya satu kali seumur hidupku, semoga cerita ini terbungkus indah dan akan saya buka kelak nanti ketika semuanya sudah berbeda,, iya meskipun dengan situasinya yang berbeda aku yakin cerita didalamnya akan tetap seperti saat ini, saat-saat indah seperti ini bersama kalian teman-teman KKN 9. Banyak persepsi tentang KKN, kalau menurut saya KKN adalah salah satu dari berbagai moment yang sangat indah dan tidak akan pernah aku lupakan dan menjadi cerita indah yang mungkin bisa membuat aku bangga setelah melewatinya...

KKN Kelompok 9 Terbaik dehh pokoknya 

By: Zuhrotun Nasukhah

Persaudaraan Tanpa Batas

Di tahun ini saya menjadi bagian dari keluarga KKN Kelompok 9 bertempat di Desa Tolbuk, Kecamatan Kalmpis. pertama kali tiba di tempat KKN, disambut hangat oleh keluarga besar Kepala Desa Tolbuk. Kelompok kami sangat bersyukur mendapat tempat tinggal sementara di belakang rumah Pak Kepala Desa, terlebih dengan berbagai fasilitas yang telah ada. Dan seiring berjalannya waktu di tempat KKN, saya mendapatkan berbagai pengalaman yang menarik, pembelajaran dalam kehidupan, saling menghargai satu sama lain dan juga masih banyak kegiatan yang fbelum pernah saya lakukan sebelumnya.

Misalnya kegiatan membantu mengajar les, mengaji dan di sekolah. kegiatan mengajar adalah hal baru bagi saya. Mengenali karakter siswa dan siswi di sekolah maupun ketika les berjalan. Selain itu saya menjadi sie publikasi, ddokumentasi, dan dekorasi yang biasa disebut PDD. Menjadi Sie PDD juga memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam hal mendesign dan juga membuat video profil desa. Saya hanya menguasai dasar-dasar fotografi dan juga design. Namun saya berusaha mengerjakan dan mempelajari hal baru dalam hidup. Dalam hal kekeluargaan dalam kelompok ini saya sangat merasa nyaman dan menganggap semua anggota kelompok 9 adalah saudara. Berharap kekeluargaan dan persaudaraan dalam kelompok ini akan berlanjut hingga seterusnya dan tidak akan pernah putus berkomunikasi satu sama lain.

By: Idfiandini Darayani Indahnya Bersyukur

Tanggal 14 Juli lalu saya berangkat KKN di desa Tolbuk yang berada di kecamatan Klampis. Awalnya sangat berat ketika berangkat KKN dan jatah liburan kali ini sangat terbatas karena digunakan untuk KKN. Setelah 3 hari KKN berlangsung saya suda merasa betah di tempat KKN, hal yang pertama membuat saya betah disini yaitu warga disini sangat ramah sangat legowo dan mereka sangat welcome dengan orang baru bahkan keramahan mereka sudah seperti keluarga. Yang kedua teman KKN yang alhamdulillah bisa diajak kerjasama dan yang lebih penting sangat kocak dan tidak ada kata ‘’Jaim’’ walaupun tidak semua seperti itu. Selama KKN ini saya semakin banyak bersyukur ketika melihat banyak warga desa disini yang masih kurang mampu tetapi mereka tetap gembira dan tidak ada perasaan kurang. Saya merasa itu cambukan yang keras bagi saya karena selama ini saya masih mengeluh dan kurang bersyukur. Alhamdulillah saya juga sangat bersyukur diperkenankan bisa kenal dan akrab dengan team KKN 9 yang sekarang sudah seperti keluarga baru saya, begitupun juga dengan warga disini termasuk pak klebun yang sangat baik sudah memfasilitasi kelompok KKN disini dengan baik.

By: Siska Novianti Keluarga Kecil KKN Kelompok 09

Banyak hal yang mmbuat aku merasa tidak betah disini (tempat KKN di Desa Tolbuk), salah satunya adalah karena jauh dari keluarga dan orang tua serta berkurangnya komunikasi dengan mereka. Hal irulah yang membuat aku kadang merasa bosan dan emosi. Tapi aku harus bertahan demi sebuah nilai dan demi meraih gelar S. Akun, walaupun hal itu sangatlah menyiksa jiwa dan raga ku karna harus menahan rindu yang setiap saat bergejolak dalam dada. Hal lain yang mmbuatku jenuh adalah karena menu makanan yang setiap harinya daging tanpa tulang alias tofu atau bahasa kerennya di kenal dengan tahu. Tahu oh tahu…! Aku hanya ingin menyebut namamu bukan memintamu untuk menemaniku setiap makan dalam keseharianku. Tahu... tahukah kamu? Kamu itu sudah membuat aku kufuk (budek) meskipun itu hanya katanya. Tapi aku juga tetap berterima kasih pada tahu karena berkat tahu uang iuran tidak bertambah dan bisa berhemat. Aku menyadari seandainya tidak ada tahu mungkin saja uang jajanku sudah habis.

Namun seiring berjalannya waktu aku mulai terbiasa dengan hidup yang apa adanya serba pas-pasan serta harus belajar mandiri dan bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. Dimana lingkungan tersebut menurutku cukup menyenangkan karena aku bisa menyalurkan apa yang menjadi kesukaanku yaitu jalan-jalan di pantai dan di tambak. Aku sangat senang saat berada di pantai karena ketika melihat hamparan laut dan ombak aku merasa damai. Banyak pula pelajaran hidup yang bisa aku ambil hikmah ketika KKN. Aku seperti memiliki sebuah keluarga kecil baru dalam hidupku. Dimana kepedulian, kebersamaan dan hubungan keluarga tanpa memandang status starata sosial ekonomi. Keluarga itu adalah mereka yaitu teman-teman anggota KKN kelompok 09 Universitas Trunojoyo Madura yang dari berbagai fakultas dann jurusan. Aku bahagia berada di tengah keluarga kecil ini, keluarga yang penuh canda tawa serta kebahagian.

NB: Untuk keluarga kecil ini tetaplah kalian menjadi bagian dari hidupku yang begini adanya, yang terkadang membuat kalian emosi dan bahkan mungkin kalian di buat tertawa karena sikap usil dan naluri humormu terhadap kalian.

By : Salma

KIsah Kasih Di KKN

Tulisan ini aku buat saat menjelang hari-hari terakhir menuju pulang ke alam masing-masing. Sebenernya yang paling bikin nyesek pas KKN itu kalau waktunya makan. Jamnya suka gak pasti. Jadi siap-siap cari makanan pengganjal sebelum waktunya makan. Atau kalau gak, siap-siap kelaparan. Dan gak Cuma sampek di situ, KKN kali ini cukup melatih kesabaran, terutama kalau waktu mandi saat awal KKN. Harus cepet-cepet ambil nomor antrian. Apalagi kamar mandinya jadi satu sama warga. Yaa harus legowo, kalau ada warga yang tiba-tiba datang bawa handuk dan berdiri di sekitar kamar mandi terpaksa harus mundur satu langkah alias ngalah wkwkwkwk. Tapi waktu hari-hari terakhir, kayaknya antrian udah gak begitu panjang, mungkin udah pada gak mau mandi kali ya, hehe.

Ibu klebun dan pak klebun yang tercinta, terima kasih untuk semua perhatian dan kasih sayang yang kalian berikan. Maafkan anak-anakmu yang suka nakal ini. Semoga hubungan kekeluargaan ini takkan terputus sampai kapanpun. Saya doakan semoga kalian selalu diberikan umur yang barokah, rizki yang berkah, dan ilmu yang bermanfaat. Amin.

Buat semua anggota KKN 9, utamakan kejujuran dan saling mendukung satu sama lain. Kalau ada yang cinlok, semoga langgeng dan lanjut terus. Kalau menikah jangan lupa undang kita semua. Kita adalah keluarga, kalau ada yang lemah yang lain menguatkan dan begitupun sebaliknya. Saling melengkapi dan jaga kekompakan. Setelah KKN jangan sampai putus hubungan, selalu jalin silaturahmi di manapun kalian berada. Kita di sini sama-sama berjuang, jangan lupa saling mendoakan untuk kesuksesan kita ke depan. Salam kompak selalu, Dedew.

By: Dewi Anggraeni

Kisah Kasih Klasik

Selama kegiatan KKN ini aku merasa sangat senang. Semua anggota KKN kelompok 9 sudah saya anggap seperti anggota keluarga sendiri, sedangkan Bapak dan Ibu klebun sudah seperti Umi dan Abi di rumah. Banyak kejadian menarik di sini, seperti pada awal-awal KKN ada paparazzi yang setia mengintai anggota KKN dan selalu membuat meme yang kadang lucu, tapi kebanyakan sih menjengkelkan. Dan lagi, kalau makan waktunya suka gak tentu. Kadang makannya cepet, dan kadang gak makan-makan sampai sore. Tapi itu semua demi kebersamaan, kalau ada satu yang makan, yang lainnya juga harus makan. Kalau ada yang sakit, yang lain yang saling bahu-membahu merawat sampai sembuh.

Kegiatan KKN ini sangat berkesan bagi saya terutama saat mengajar di sekolah. Semua murid menerima kami dengan senang hati, dan sangat mendukung proses belajar-mengajar di kelas. Meskipun ada beberapa murid yang nakal dan cukup menguji kesabaran. Tapi itu semua demi satu tujuan, pengabdian. Saat bimbel, anak-anak sangat antusias dan selalu rajin menghadiri tiap pertemuan. Mereka semua adalah adik sekaligus anak yang menyayangi dan sangat saya sayangi. Saya berharap kedepannya mereka akan menjadi anak-anak yang sukses dan nggak lupa sama kakak-kakak KKN nya.

Untuk semua teman KKN kelompok 9, saya berterima kasih untuk semua perhatian dan dukungan yang kalian berikan. Saya akan merindukan setiap kebersamaan yang kita lewati. Semoga persaudaraan ini tidak akan terputus sampai kapanpun. Tidak lupa buat semua warga Tolbuk, yang menerima dan menjaga kami selama kami di sini saya sangat berterima kasih, semoga kalian tetap dalam lindungan-Nya. Terakhir, buat KKN kelompok 9 tetap jaga kekompakan dan saling mendukung satu sama lain. Kelompok 9.. aseek.

By: Ahdiyatul Azkiyyah

Terimakasih Cinta

Cinta itu bukan karena siapa, tapi karena mengapa. Siapapun bisa merasakan cinta tapi tak semua alasannya sama. Oleh karena itu, “mengapa” adalah pertanyaan paling tepat untuk kita mencintai dan dicintai. Itulah mengapa, karena saya merasa dicintai sehingga saya harus lebih mencintai mereka.

Mereka memang baru hadir dalam waktu yang tak lama, namun saya sadar kita tak hanya belajar dalam segala sesuatu yang penuh dengan teori, kita butuh pengalaman secara praktik. Ini saatnya, kuliah kerja nyata yang penuh dengan pembuktian teori pembelajaran hidup kita. Dimana kita harus adaptasi dan mengahargai semua yang seharusnya ada di dalam tempat yang baru.

Mulai dari kehangatan yang mereka berikan saat kami sampai hingga saat ini, hari-hari terakhir kami di desa Tolbuk yang damai, tak sedikitpun membuat hatiku gelisah ingin kembali. Cintaku kepada mereka semakin bertambah saja, saat aku menemukan pejuang kecil dengan penuh harapan di masa depannya. Hanya senyum haruku yang menunjukkan seolah tak mau melepas mereka berjuang sendirian.

Pejuang kecil penuh harapan itu adalah mereka, semua siswa SDN Tolbuk yang selalu memberikan cinta dan semangatnya setiap kami mengajar bimbel dan di sekolah. Memang tak semua dari mereka mencintaiku, tapi kehadiran mereka membuatku semakin sadar akan profesi seorang “guru”, yang harus penuh cinta juga berbagi ilmu. Tak mudah memang, namun sangat mengesankan saat mereka terus menyatakan cintanya, tentang kenyamanan mereka dengan kami.

Malam itu, malam paling menyenangkan bagiku. Mereka datang menyatakan cinta yang tak pernah membosankan bagiku. Batasan waktu untuk bimbingan belajar telah berlalu, namun sebagian dari mereka tak ingin pulang lebih dulu. “Mbak, jangan pulang dulu. Saya ingin sepertimu.” Tak cukupkah kalimat itu untuk menunjukkan seberapa besar cinta mereka bagiku? Tak cukupkah itu sebagai bukti tingginya semangat? Sungguh, aku masih ingin disini, mencintai kalian dengan sangat. Bagiku, kalian sudah termasuk orang penting, pemicu semangatku untuk terus berkarya dalam dunia pendidikan demi usia muda mereka.

By: Nuor Ainiy Hidayati

Ini Ceritaku…Mana Ceritamu ?

Cerita tentang KKN, cerita tentang pengalaman, inspirasi dan pembelajaran tentang kehidupan masyarakat desa yang sangat sederhana, cerita tentang aku, kelompok 9 dan masyarakat tolbuk. Banyak pengalaman yang saya dapatkan selama KKN di desa Tolbuk ini, yaitu bagaimana cara berkomunikasi dengan masyarakat disana dengan begitu banyak perbedaan dari kita meski saya pribadi berasal dari Sumenep tetapi ada Bahasa – Bahasa tertentu yang berbeda dari tempat tinggal saya di Sumenep sehingga terkadang saya butuh waktu untuk mencerna apa yang mereka maksud.

Pengalaman lain yang saya rasakan yaitu ketika berhadapan dengan anak – anak, semangat mereka dalam menuntut ilmu yang dapat saya jadikan inspirasi, mereka begitu semangat saat kami mengadakan les yang ditempatkan dirumah pak kalebun, yah.. meski mereka terbilang bandel dan susah di atur. Satu hal lagi yang dapat saya pelajari dari mereka yaitu bagaimana seharusnya kita menghormati orang tua atau guru karena tanpa perjuangan beliau kita bukan apa – apa, mengerti bagaimana lelahnya mereka mengajari anak didiknya dengan karakter yang beragam, menghadapi mereka yang mungkin bandelnya mintak ampun, memikirkan cara bagaimana membuat anak didiknya nurut.

Tidak hanya itu, dalam KKN ini saya belajar arti pertemanan dan sebuah keluarga kecil baru yang hanya dipertemukan dalam beberapa bulan saja dan didekatkan dalam beberapa hari saja, awalnya memang susah karena perbedaan karakter masing – masing dari kita yang berbeda sempet ada salah paham juga antara kita tetapi seiring berjalannya waktu kita mulai mengerti dan paham sifat dari masing – masing kita meski mungkin masih ada beberapa teman yang masih No Rest kesesama tapi itu tidak menutup kekompokan kita dalam melakukan kegiatan. Perbedaan memang ada karena tanpa ada perbedaan semua tidak akan menjadi lebih Indah sepertihaknya pelangi yang menyatu dengan indah karena kesatuan warna yang berbeda.

By: Nanik Dwi Jayanti

Sambil Menyelam Minum Air

Tidak terasa sudah 23 hari waktu berjalan di desa Tolbuk dalam pelaksanaan kkn bersama 19 teman yang awalnya tidak saya kenal. Malas bercampur sedih saya rasakan sebelum pemberangkatan kkn ke desa Tolbuk karena saya merasa dengan karakter pendiam yang saya miliki akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa akrab bersama teman-teman yang belum dikenal. Dengan tekat kuat, saya mencoba menghilangkan rasa malu untuk bisa berinteraksi dengan tiap individu kelompok 9 dan alhamdulillah pada saat ini, teman-teman kelompok 9 sudah saya anggap layaknya saudara yang mengajarkan berbagai hal. Bukan hanya keakraban bersama teman-teman kelompok 9 yang dapat saya rasakan, bersama masyarakat Tolbuk pun begitu juga, dengan sikap ramah dan terbuka menyambut kehadiran kami membuat saya merasa bersyukur karena sudah ditempatkan di desa Tolbuk. Berjalannya 11 proker menjadi bukti nyata akan adanya kepedulian masyarakat Tolbuk terhadap kami karena pelaksanaan proker tidak akan berjalan dengan lancar tanpa adanya partisipasi dari masyarakat lebih khususnya orang berpengaruh di desa Tolbuk yang telah menyumbangkan ide serta materi untuk pelaksanaan proker yang telah direncanakan. Terlebih-lebih lagi untuk keluarga pak kalebun yang dari awal kedatangan kami, sudah disambut dengan begitu hangat dan disediakannya fasilitas yang sangat lebih dari cukup.

Di kkn ini, bukan hanya pengabdian yang dapat diberikan kepada masyarakat melainkan ada sebuah timbal balik terhadap diri saya yaitu melalui kkn ini saya bisa lebih mengetahui arti hidup yang sebenarnya, bisa mengetahui apa arti sebuah kesabaran, kepedulian, menghargai, kekompakan, dan pentingnya penilaian terhadap diri sendiri. Pada intinnya kkn yang saya jalani selama kurang dari satu bulan telah memberikan sebuah pelajaran hidup yang sangat begitu berarti dan bermanfaat untuk kehidupan selanjutnya.

By: Maltufah

Kebersamaan Diantara Perbedaan

Saat ini saya menjadi anggota keluarga KKN di kelompok 09, awal perjalanan saya merasa malas karena disaat itu saya dengan lainnya masih belum mengenal satu sama lain apalagi harus menetap tinggal di posko KKN selama 26 hari. Setelah saya mencoba adaptasi satu sama lain saya sedikit merasa nyaman dengan kondisi saat ini, terlebih dari beberapa anggota kelompok saya memiliki karakter yang berbeda beda otomatis disini saya mempunyai banyak pelajaran bila dilihat dari segi sosial ataupun komunikasi. Selain menjalankan tugas, saya disini juga diajarkan untuk membentuk kekeluargaan yang baik dari kekeluargaan tersebut saya menemukan seseorang, salah satunya dia mampu memberikan suatu pesan serta kesan yang akan saya simpan di memori saya. Tidak akan ada habisnya bila saya menjelaskan secara rinci mengenai sifat ataupun karakter masing-masing anggota kelompok. Kesimpulannya adalah dengan adanya KKN serta program kerja yang berjalan saya mendapatkan banyak pelajaran, yang jelas hal tersebut tidak akan saya lupakan untuk saya jadikan sebagai penopang masa depan dan suka duka selama masa KKN tetap akan saya rindukan. THAT’S GOOD.

By: Sandy Alam Pratama

Bahagia itu Indah

Pada tahun ini, saya menempuh Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada semester 6. Saya berada di kelompok 09, yang ditempatkan di Desa Tolbuk, Kecamatan Klampis, Kabupaten Bangkalan. Dari berbagai jurusan yang ada di dalam kelompok 09, membuat saya mengetahui kemampuan dan pelajaran yang dulu tidak pernah mengetahuinya.

Pada saat kita pemberangkatan menuju desa Tolbuk, rasa tegang yang menghantui saya saat perjalanan. Ternyata kita disambut dengan ramah oleh Bapak Kepala Desa atau Bapak Kalebun dengan keluarga dan kita mendapatkan tempat tinggal sementara yang begitu layak untuk 26 hari. Pada minggu 1-2, kita tidak disibukkan dengan kegiatan. Tetapi pada minggu ke 3, kita di forsir untuk melakukan kegiatan yang harus dikerjakan.

Pengalaman yang saya dapatkan saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) yaitu bisa membagi ilmu dengan anak-anak Sekolah Dasar (SD). Dengan semampu kita yang membagi ilmu kepada penerus bangsa nanti. Saat saya mengajar di Taman Kanak-Kanak, membuat saya mengetahui gembira dan senang anak-anak usia dini dengan hadirnya kita. Hari demi hari yang kita lalui bersama, suka duka yang dilalui dengan berbagai canda tawa. Kita saling mengenal lebih jauh, sifat dan watak masing-masing teman Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 09. Bahagia itu sederhana, disela-sela waktu kita luangkan untuk bergurau dan bercanda. Agar tidak selalu serius dan sibuk memikirkan program kerja yang akan dikerjakan. Kita mendapatkan kasih sayang dari anak-anak didik kita selama mengajar yang akan kita kenang saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) berakhir. Jadi pada intinya, Bahagia itu sederhana.....

By: Rivkah Muflihah

Bahagia itu Sederhana

Mungkin ini adalah salah satu pengalaman yang ingin saya bagikan ke temen-temen. Pengalaman yang mengenang dan dapat saya ceritakan ini. Sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir tentunya mengalami masa-masa yang dianggap menakutkan tapi sebenarnya tidak. Yaitu KKN. KKN itu singkatan dari Kuliah Kerja Nyata bukan Kuliah Kerja Nikah yang biasa dijadikan bahan bercandaan supaya tidak tegang dan meradang. KKN disini kita dituntut untuk belajar bermasyarakat di sebuah desa. Seperti salah satu pepatah “Di kampus kita belajar untuk di uji, di masyarakat kita di uji untuk belajar” setelah dipikir-pikir pepatah itu ada benarnya juga.

Hari pertama saat berada di lokasi KKN alhamdulillah kami mendapat tempat yang cukup layak untuk kami tempati selama 26 hari. Semua warga desa terutama Pak Kades beserta keluarga yang rumahnya kami tempati welcome atas kedatangan kami di desa Tolbuk ini. Hari mulai berganti hari, tiba saatnya peserta KKN menjalankan tugasnya masing-masing dengan proker yang telah diagendakan sebelum keberangkatan KKN. Minggu 1-2 mungkin kami tidak begitu sibuk. Melainkan pada minggu ke-3 semua mulai sibuk seakan-akan di forsir untuk selalu mengadakan evaluasi tiap harinya.

Hal yang menarik yang saya dapatkan selama menjalankan KKN yaitu meskipun dari menu makan kita yang mungkin cenderung amat sangat sederhana yaitu menu tahu dan kawan-kawan, kami tetap merasa bahagia karena kami 1 kelompok, satu rasa, satu tujuan yang sama. Selain itu disela-sela melaksanakan KKN dengan berbagai macam proker yang cenderung terlihat sedikit sibuk akan tetapi kita masih bisa menyempatkan diri untuk bersenda gurau bersama. Melepaskan penat dan masalah yang ada seperti masalah pribadi (pacar). Jadi pada intinya bahagia itu sederhana dan bahagia itu tidak selamanya tentang pacar. Sekian..

By: Apriliany Sugiarti

Indahnya Kebersamaan

Pengalaman yang di dapat setelah menjalani KKN selama sebulan di desa Tolbuk Kecamatan Klampis banyak sekali. Pengalaman-pengalaman tersebut meliputi hal-hal sepele serta pengalaman yang sangat berharga dan dapat dijadikan pelajaran hidup. Pengalaman pribadi dari hal sepele meliputi rutinitas yang dilakukan di desa ini, dimana saya hidup dan berkumpul dengan 20 teman lainnya. Hidup bersama dengan teman-teman di KKN ini melatih kesabaran seperti dalam kegiatan mengantri, tanggung jawab seperti dalam kegiatan pelaksanaan program kerja serta, sikap saling menghormati dan menghargai yang harus diaplikasikan dalam keseharian hidup bersama teman-teman. Selain itu pengalaman yang saya dapatkan dalam kegiatan KKN ini yaitu saya dapat mengetahui karakater teman-teman yang lebih beragam dan belum pernah saya temui sebelumnya. Dari macam-macam karakter teman-teman yang ada disini, saya dapat mengambil manfaatnya baik dari bagaimana cara bersikap atau bertindak serta bagaimana menghargai. Keluarga KKN yang dulu dibayangkan tidak mengasyikkan ternyata pada realitanya sangat mengasikkan karena di tempat ini saya bisa bertemu dengan teman-teman yang mempunyai beberapa kesamaan dan bisa diajak ketawa bareng dengan bahasan yang kadang tidak terlalu penting untuk dibahas, dan hal tersebut yang menjadi hiburan saat tinggal di desa ini. Selain itu, kaarena kegiatan pengaabdian ini merupakan kegiatan pertama bagi saya, saya dapat lebih dekat dengan masyarakat pedesaan, memahami sedikit demi sedikit budayananya, serta menikmati indahnya hidup di desa ini.

By: Risky Amalia

Kenangan Manis KKN

Selama kegiatan kkn yang dilaksanakan pada tanggal 14 Juli – 8 Agustus 2016, saya mendapat banyak sekali pengalaman baru. Saya belajar akan kepemimpinan, setidaknya untuk memimpin saya sendiri. Belajar kebersamaan dalam perbedaan, belajar kekeluargaan, dan lebih banyak lagi. Dari yang awalnya hanya bangun ketika ada kuliah, mengerjakan tugas ketika deadline, menjadi bangun awal untuk mempersiapkan sarapan keluarga kkn kelompok 9. Setelah menyiapkan makan, lalu siap-siap untuk mengajas ke SD, lalu sorenya dilanjut mengajari Bimbingan Belajar untuk anak SD juga siangnya diselingi dengan rapat-rapat intern mengenai proker atau apapun yang berhubungan dengan kelangsungan hidup KKN 9 di Desa Tolbuk Kecamatan Klampis Kabupaten Bangkalan ini. Sungguh pengalaman yang tak ternilai harganya, dengan basi jurusan Agroteknologi saya dapat merasakan pengalaman menjadi Guru SD walaupun hanya sebentar dan termasuk singkat. Pesona Desa Tolbuk juga tidak kalah dengan Korea, karena saya fanatik ekstrim sekali dengan apapun yang berhubungan dengan Korea. Desa Tolbuk, Desa Penuh Kenangan. Tak dapat digambarkan oleh kata-kata. Pesona sunset di daerah tambak, budaya karapan kelinci yang khas, juga kehangatan keluarga Pak Kepala Desa / Pak Klebun yang tidak hanya menyambut tetapi merangkul kami keluarga KKN 9. Dari yang takut menjadi berani. Dari yang pemalu menjadi percaya diri. Dari yang awalnya egois menjadi berbaur. Dari yang awalnya pendiam menjadi banyak omong (dalam arti yang positif). Dari yang awalnya asing menjadi sedekat nadi. KKN bagi saya bukanlah pengabdian yang harus terdikte, harus ini harus itu harus serba perfect. KKN adalah tempat saya berkreasi, tempat saya menyalurkan bakat. Mengabdi kepada masyarakat tidak harus KKN, tetapi KKN adalah sebuah wadah dengan judul pengabdian kepada masyarakat yang dimana isinya ada sejuta kenangan, sejuta pengalaman dan sejuta Magic dengan taburan kebahagiaan, kesedihan, kesusahan yang ditanggung bersama keluarga KKN Kelompok 9. Ya jadi intinya KKN wajib dicoba dan gue jamin gabakal nyesel deh, udah itu aja. Thanks for your Blessing God and Thanks for All.

By: Chusnul Arifah

Susah Senang Bersama

Ambigu merupakan sebuah kata yang terucap pertama kali karena semua berawal dari ketidakjelasan dan ketidakkenalan. Tapi satu hal yang pasti semua ini merupakan awal baru dalam keluarga baru ini. Awalnya pesimis, bahwa kelompok ini akan saling bahu-membahu menjalani rutinitas serta menjalankan program kerja. Namun seiring berjalannya waktu meski kadang egois selalu menemani, kita mulai perlahan bekerja sama dan memahami satu sama lain. Satu kata untuk desa Tolbuk, abstrak. Abstrak bagi mereka yang tidak pernah hidup dan abstrak bagi mereka yang tidak mengenalnya dan mengetahui karakter yang ada pada desa ini. Dan awalnya itu yang aku rasakan, sebuah rasa pesimis dan rasa enteng untuk menjalani aktivitas KKN ini. Karena desa ini seolah tak memiliki gairah dalam memperbaiki perekonomiannya, namun aku mulai sadar bahwa penduduk desa ini bisa dikatakan makmur, karena mereka semua memiliki kendaraan yang mereka tempatkan di kandang, tidak lain dan tidak bukan adalah sapi.

Siklus kehidupan kami sangat lucu terutama apabila aku sering bercanda kala ada yang mengkritikku dengan kata “aku tidak mau disalahkan”. Mungkin bagi mereka yang tidak mengenalku itu sebuah kata yang dapat mencerminkan bahwa saya sombong. Tapi sesungguhnya, aku berkata demikian hanya sebatas mengingatkan teman-teman secara halus bahwa kita tak pernah sempurna.

Hidup ini merupakan persahabatan, hidup ini merupakan keikhlasan, hidup ini adalah kesukarelaan, dan hidup ini bukan tentang kita sebatas bicara menggembar-gemborkan sesuatu yang pada akhirnya tanpa sadar kita akan menjilat ludah kita sendiri, dan bukan pula sebatas kita bekerja terus menerus namun pada akhirnya kita meneriakkan bahwa kita terus bekerja tanpa istirahat yang mana pada hakikatnya jika kita bekerja, cukuplah kita bekerja bukan bicara. Jika lelah, istirahatlah.

By: Hengki Sugianto

Berbagi Cerita

Dari pertama kita menjajaki kaki di desa Tolbuk lokasi KKN Kelompok 9 sampai KKN selesai semua asik-asik aja. Tapi, yang paling asik kalau ada warga yang berbaik hati ngundang makan siang atau malam bareng, sebagai anak KKN yang makannya pas-pasan, dapat undangan makan itu luar biasa sekali. Hahaha Warga desa merasa sangat beruntung jika mereka bisa dekat dengan mahasiswa yang sedang KKN di desanya itu. Ada rasa bangga tersendiri jika mahasiswa KKN mempunyai kedekatan khusus dengan mereka. Disisi lain kadang kita Ngerasa ga betah. Hal Ini maklum saja terjadi.

Berada di desa yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, bersama orang-orang yang baru dikenal pasti suatu waktu akan membuat tidak betah. Apalagi kalau di desa itu tidak ada TV atau apapun yang biasa kita dapati di tempat tinggal kita. Nah, perasaan tidak betah, bosan, suntuk, ini wajar didapati selama KKN. Solusi satu-satunya agar bisa mengatasinya ya.... ! dengan mencari kesibukan di desa itu. Jangan biarkan diri terlarut dengan rasa tidak betah itu, berdiam diri di kamar. sering-sering duduk bersama warga dan melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti akan menghilangkan segala resah dan kelisah yang menyelimut didalam hati.

Saling iri dan saling menylahkan Selama 27 hari KKN, ada beberapa kali terjadi yang pernah terjadi di antara teman-teman sekelompok KKN. Pernah terjadi antara anggota cowok. Sebenarnya kalau dikatakan bertengkar pun tidak separah itu, hanya saja keadaan saat itu sedikit tidak mengenakkan. Alasannya, ada salah seorang anggota yang tidak sejalan dan tidak kompak dengan anggota yang lain. Namun cepat diatasi, dalam waktu sehari mereka bisa berbaikan kembali. Yang kedua, di anggota KKN cewek. Yah, alasan klasik juga sebenarnya. Karena ketidaknyamanan satu sama lainnya, ketidakcocokan, dan tidak saling mengerti. Ada yang manja, malas melakukan aktifi bersama, terlalu banyak bergerak saat tidur. Dan hal ini diam-diaman satu sama lainnya ada yang tidak saling sapa dan sok tidak kenal dan saling tidak peduli satu sama lain. Dan alhamdulillah dengan duduk bareng dan musywarah segala permasalhan akan dapat diselesaikan dan kita kembali menjalin hubungan yang baik dan saling kasih –mengasihi.

By: Moh. Sa’odi

Antara Aku, Dia dan Mereka

Antara aku,dia dan mereka. Terlalu banyak kisah dan kenangan yang suatu saat nanti akan dikenang dan terkenang. Sedih, canda dan tawa telah dilewati bersam. Saling mengisis kekurangan satu sama lain antara kekuatan dan kelemahan. Ada yang kuat namun tidak menggunakan kekuatan itu untuk melindungi yang lemah melainkan untuk keogoisan dirinya sendiri. Saya cukup tahu itu, karena saya tidak pernah diam melihat yang lemah tertindas dan diperbudakkan begitu saja.

Keindahan pelangi ada karena perbedaan warnanya. Jadi wajar semisal dalam sebuah kelompok timbul perbedaan yang menyebabkan sebuah permasalahan. Namun bagi saya, dia egois, dia yang lugu dan polos atau bahkan dia yang sok berwibawa, mereka memberikan manfaat bagi saya, saya tak pernah melihat apa kelebihan mereka namun kekurangan merekalah yang justru memberikan banyak pengalaman kepada saya.

Berbicara tentang pengalaman yang saya peroleh dari desa. Walah…..sangatlah banyak yang saya peroleh dari desa ini dan akrab dengan aparatur desa seperti teman sendiri. “Gak Ada Loe Gak Rame” kata-kata seperti yang biasa muncul dari setiap orang yang ada di desa ini. Ha Ha Ha…. Seperti seponsor rokok sampoerna saja.

Tulisan ini mungkin masih sangat umum saya sampaikan. Ingin yang lebih khusus ??? temui saya langsung kapanpun dan dimanapun saya berada. Ha ha ha…. Saya Rusdi Agung The Xander of Zone menyampaikan pesan ini hanya sebatas sentilan kecil untuk dia dan mereka

By: Rusdi Agung

Kesan Manis KKN

Membosankan, jenuh, ingin segera berakhir, bahkan kalau perlu KKN ditiadakan karena mengganggu masa-masa liburan. Demikianlah sejujurnya perasaan diawal-awal menjelang pelaksanaan pemberangkatan KKN. Tidak kalah menjengkelkan pada masa-masa pengumpulan semua anggota sehabis pembentukan kelompok yang selalu saling menunggu sehingga harus molor berjam-jam, atau masa konsultasi penyusunan program kerja. Dimana harus mondar-mandir ke desa menemui perangkat desa, tokoh masyarakat, dinas-dinas serta konsultasi dengan Dosen Pembimbing lapangan disela-sela banyaknya tugas perkuliahan.

Cerita diatas cuma sepenggal pengalaman kurang menarik menjelang KKN. Di lain waktu pada hari pelaksanaan KKN saya memiliki lebih banyak pengalaman menarik, lebih menyenangkan, lebih asyik, bahkan jika bisa rasanya ingin mengulang kembali. Lebih dari sekedar terbayar segala kemungkinan bayangan buruk diawal. Jadi, rasa sesal saya saat ini akan muncul seandainya tidak pernah ikut KKN.

Segudang kejadian menarik masa KKN, bagiku terlalu sulit untuk dibagi dalam bentuk ulasan sepenggal cerita. Ada perasaan emosi, ekspresi, dan moment keindahan yang telalu rumit. Barangkali seperti halnya cinta, karena bisa dirasakan oleh semua manusia tanpa mampu mendefiniskan secara rigit. Tak pelak ketika saya sedikit mengintip tulisan kesan dari teman sekelompok mayoritas merasa bahagia.

Kebahagiaan itu tidak serta merta timbul. Ekspresi bahagia tersebut dibangun dari cerita-cerita kecil sewaktu berinteraksi dengan warga. Pernah suatu waktu disaat diajak ngobrol santai oleh Kepala Desa saya hanya bisa terdiam sewaktu mereka semua tertawa. Saya tidak tahu apa yang sebenarnya mereka tertawakan sebab menggunakan tutur bahasa Madura. Baru setelah selesai ngobrol saya bertanya kepada teman dari Madura untuk menjelaskan. Dengan sedikit menahan tawa teman saya mengungkapkan, ”tadi mereka bercerita di desa ini ada kejadian seseorang warga sedang membersihkan kandang sapi, tiba-tiba sapinya keluar dan naik ke punggung orang tersebut. Si sapi Bukan hanya sekedar naik ke punggung. Tapi karena warga tadi memakai sarung (selayaknya gaya berpakaian sehari-hari orang Madura) alat kelamin si Sapi berhasil meyingkap pakaian yang sering digunakan waktu shalat tersebut dan menerobos ke anus sampai harus dilarikan ke rumah sakit,” ungkapnya sambil terkekeh.

Keterbatasan penggunaan bahasa dan perbedaan budaya dengan orang desa seolah juga menjelaskan kembali buku-buku komunikasi lintas budaya, atau komunikasi masyarakat Madura secara riil. Sebagai seorang mahasiswa saya banyak menemukan kearifan lokal, kebijaksanaan, nilai-nilai yang bisa dipetik sebagai pelajaran hidup atau pembanding kajian ilmiah. Sehingga bisa lebih mengasah kepekaan sikap toleransi serta memaknai perbedaan sebagai kekayaan budaya.

Doa saya untuk teman-teman mahasiswa setelah selesai KKN ini mereka bisa menentukan posisi sikap keberpihakannya kepada kemanusiaan yang memanusiakan manusia. Kembali mengingat sumpahnya yang tertulis di Tridharma agar kepandaiannya dipergunakan menolong sesama bukan saling sikut menghancurkan sesama.

By: Iskak

Keunikan Desa Tolbuk

Selama KKN pada tanggal 14 juli sampai 8 agustus bersama kelompok 9, Banyak sekali pengalaman yang terjadi yang saya alami, salah satunya sikap gotong royong yang sangat solid merupakan citra dan ciri khas tersendiri warga desa tolbuk dimana dalam setiap aktivitas dan kegitatan yang mengandung unsur sosial para warga sangat antusias dan peduli satu sama lain, sikap loyalitas dan totalitas warga desa menjadikan sebuah contoh positif bagi kelompok KKN 9, dimana dalam melakukan sebuah kerja sama haruslah saling menguatkan dan membantu satu sama lain.

Kekentalan adat istiadat masyarakat Madura juga khususnya masyarakat Desa Tolbuk seperti dalam sebuah perkumpulan kecil setelah maghrib di mushola kediaman Bapak Marzuki Badrus Sholeh dimana ditempat tersebut terdapat perkumpulan para anak-anak warga desa Tolbuk yang penuh dengan semangat dan ketekun dalam belajar mengaji al-quran, tata cara dalam mengeja bacaan huruf al-quran yang berbeda dengan dilingkungan saya belajar saat kecil dulu, menjadikan bingung saat saya mendengarkanya, terdengar asing ditelinga, seperti contoh “alif ngepes aa, alif ngejir ii,” sedikit bingung dalam memahaminya sehingga apa yang dibaca tidak dapat saya mengerti, dari sini saya menyadari bahwa kekentalan adat Madura baik lingkungan, religi, dan tata cara membaca al-quran itu sangat unik. Sekian....

By: Muhammad Hanafi

Sarana dan Prasarana

ilustrasi (sumber:http://www.djogjasumberberita.com)
Melihat sarana dan prasarana yang ada di Desa Tolbuk memang masih banyak yang harus dibenahi. Mulai dari yang tampak seperti tidak adanya Balai desa, Papan petunjuk dusun-dusun serta sistem transportasi yang ada. Ini yang menyebabkan antusiasme masyarakat berkurang akan pedulinya semangat menjadikan desa semakin berkembang.

Desa Tolbuk yang terletak disebelah utara Desa Ko’ol Sedangkan jarak tempuh ke kota Kecamatan adalah 9 km, jarak tempuh ke ibu kota Kabupaten adalah 16 km, dan jarak tempuh ke kota provinsi adalah 124 km. Jadi transportasi memang harus lebih diperhatikan untuk kenyamanan masyarakat. Hal ini memang pelik untuk diperhatikan lebih serius. Selain akses jalan yang rusak tentunya juga bisa membahayakan nyawa seseorang. Kelompok KKN UTM pun sudah merasakan betapa “nikmatnya” jalan akses yang benar-benar butuh perjuangan. Namun itu semua tidak serta merta harus ditanggung desa. Melainkan kesadaran kalangan “atas” untuk sekiranya sudi melihat ke bawah bagaimana keadaan Desa Tolbuk ini.

Media Pendukung

ilustrasi (sumber:http://www.kandhani.net)
Berbicara media yang terdapat di Desa Tolbuk ini memang sangatlah sederhana. Bahkan jauh dari kesan mewah. Tapi bukan tidak ada masyarakat yang memiliki media yang sudah bisa dikatakan mewah dan mengikuti zaman globalisasi, tapi porsinya sangat kecil. Tentunya ditinjau juga dari penghasilan dan keadaan ekonomi mereka. Padahal media ini sangatlah penting untuk mencari informasi terkini atau bahkan bisa menjadi sekedar hiburan untuk mengisi waktu luang. Untuk data yang kami himpun di lapangan, kebanyakan masyarakat Tolbuk memilih media televisi. Karena tidak dapat dipungkiri media televisi ini memang yang paling utama untuk mendapatkan informasi dari luar. Bahkan ada keluarga yang sudah mampu menambahkan parabola untuk lebih “mempertajam” media informasinya.

Media-media lain seperti koran, radio dan internet tidak begitu populer di desa ini. Namun ada beberapa yang masih tertarik menggunakannya, seperti media cetak koran misalnya, tidak semua penduduk bisa menikmati informasi dari media cetak ini. Selain tidak adanya agen Koran di Desa Tolbuk. Masyarakat juga harus mendapatkannya ke daerah kota atau menitipkan kepada saudara atau teman yang sering bepergian ke kota. Selain Pak Klebun, sangat jarang masyarakat yang menggunakan koran sebagai pelengkap media untuk mendapatkan informasi.

Media radio sulit ditemukan di Desa Tolbuk. Selain radio juga kurang memadai untuk memenuhi kebutuhan informasi. Radio memang sedikit peminatnya karena yang didapat informasi hanya berupa suara.

Internet merupakan sebuah terobosan baru dalam media informasi. Selain penyalurannya cepat dan tepat, internet juga bisa dimanfaatkan kapan saja dan dimana saja. Seperti memanfaatkan sosial media layaknya facebook, twitter dll. Beberapa pemuda desa ini sudah menggunakan internet menggunakan smartphone yang digunakan untuk mengakses jejaring sosial seperti facebook, twitter, bbm, whatsapp, line, path dll. Beberapa warnet jarang di Desa Tolbuk ini dan jarak aksesnya pun lumayan jauh, menjadikan internet sebagai media yang mahal dan media alternatif bagi warga Tolbuk. Sedangkan untuk media luar ruang seperti papan pengumuman sama sekali belum ada di Desa Tolbuk

Untuk pengembangan desa, kelompok KKN UTM pun melakukan program blog desa. Dimana blog ini tentunya bertujuan untuk mengangkat potensi lokal Desa Tolbuk pada khususnya dan Kecamatan Klampis pada umumnya. Sehingga masyarakat dapat mengenal internet sebagai media yang lebih fleksibel dan mudah. Blog ini pun bertujuan untuk mengangkat dan mendekatkan Desa Tolbuk dengan Kecamatan Klampis dan Kabupaten Bangkalan untuk sama-sama mengembangkan potensi lokal dengan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini. Sehingga semua masyarakat sadar akan teknologi dan bisa menghilangkan tradisi gaptek untuk orang desa.

Monografi desa Tolbuk

ilustrasi (sumber:http://www.mysultra.com)

KONDISI DESA 

Desa Tolbuk terletak di wilayah Kecamatan Klampis Kabupaten Bangkalan dengan luas wilayah 132, 90 Ha. posisi dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Keadaan Desa Tolbuk ini sebenarnya sangat strategis. Sebelah selatan berbatasan Desa Muarah, sebelah utara berbatasan langsung dengan Ko’ol, sebelah timur berbatasan dengan Desa Ra’as, sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Laut Jawa.

DEMOGRAFI

Berdasarkan data Administrasi Pemerintahan Desa Tolbuk jumlah penduduk desa Tolbuk adalah 452 KK terdiri dari 1614 jiwa, dengan jumlah hak pilih 1314 jiwa, dengan rincian 736 laki-laki dan 881 perempuan.

POTENSI SUMBER DAYA MANUSIA 

 JUMLAH

LETAK GEOGRAFIS

Desa Tolbuk terletak Bangkalan bagian utara. Ketinggian desa ini adalah berupa daratan rendah yaitu sekitar 2 m dpl. Jarak Sebelah selatan berbatasan Desa Muarah, sebelah utara berbatasan dengan Desa Ko’ol, sebelah timur berbatasan dengan Desa Ra’as, sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Laut Jawa.